BBWSS VIII melakukan pemanfaatan potensi rawa

Luas rawa di Provinsi Sumatera Selatan sekitar 613.795 Ha yang terdiri dari 455.949 Ha rawa pasangsurut dan 157.846 Ha rawa lebak. Wilayah kabupaten yang memiliki potensi rawa terluas adalah di Kabupaten Musi Banyuasin dengan total luas 322.821 Ha, yang terdiri dari 320.921 Ha rawa pasangsurut dan 1.100 Ha rawa lebak. Untuk rawa pasangsurut yang sudah direklamasi seluas 430.121 Ha, dengan gambaran pemanfaatan 182.763 Ha untuk sawah, 56.934 Ha untuk kebun, 7.946 Ha untuk tambak, 95.504 untuk lain-lainnya, dan 68.974 Ha yang belum dimanfaatkan

Reklamasi rawa pasangsurut tidak hanya merupakan tugas dari pemerintah, akan tetapi dari 430.121 Ha yang sudah direklamasi tersebut seluas 45.787 Ha dilaksanakan oleh masyarakat atau swasta. Sedangkan untuk masih tersisa 25.928 Ha lagi yang belum direklamasi.

Untuk rawa lebak yang sudah direklamasi seluas 120.685 Ha, dengan gambaran pemanfaatan yaitu 48.782 Ha menjadi sawah, 1.500 Ha menjadi kebun, 23.339 Ha untuk lain-lainnya dan 47.064 Ha masih belum dimanfaatkan. Peran serta dari masyarakat atau swasta untuk melakukan reklamasi seluas 106.785 Ha dari 120.685 Ha. Hal ini menggambarkan bahwa peran aktif dari masyarakat untuk memanfaatkan rawa lebak sudah tinggi. Sementara itu potensi rawa lebak yang belum direklamasi masih seluas 37.161 Ha lagi.

Pemanfaatan rawa ini di Sumatera Selatan akan dimanfaatkan untuk perumahan dan perikanan.

Sumsel Manfaatkan Rawa untuk Peternakan Kerbau

PALEMBANG — Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Alex Noerdin menyayangkan potensi rawa di daerah ini yang cukup besar namun pemanfaatannya belum optimal.

Akhir pekan lalu, Gubernur Sumsel mengatakan, ?Semua pihak harusnya dapat turut serta dalam pemanfaatan potensi rawa di sektor pertanian. Sumatera Selatan punya banyak lawan rawa. Tahun lalu, kita membuktikan ?sebagai lumbung pangan dengan surplus beras 1,2 juta ton. Tahun ini kita targetkan meningkat lagi menjadi 1,3 juta ton.?

Read more

Training of Trainer Pendampingan Pelaksanaan Program Percepatan dan Perluasan Pembangunan Infrastruktur Sumber Daya Air

BBWSS VIII ? sehubungan dengan program perluasaan dan percepatan pembangunan infrastruktur Sumber Daya Air bidang Irigasi pada tahun ini di Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera VIII. Selasa (2/09/2014) bertempat di Aula Lantai 3 BBWSS VIII, diadakan Penandatanganan kontrak kerja dan pelaksanaan Training Of Trainer (TOT). awal kegiatan yang dibuka oleh Laporan Iskandar Pani, ST tentang program kegiatan tersebut dam dilanjuti Laporan dari Kabid O&P Drs. H. Tontowi Djauhari, ST, MM dan dibuka resmi oleh Kabag Tata Usaha Ir. H. Hendri,ST., M. Si selaku perwakilan dari Kepala BBWSS VIII.

Read more

Pelaksanaan Audit Mutu Internat Unit Hidrologi

Pada tanggal 16 dan 17 Juni 2014 bertempat di Kantor PPK Penatagunaan SDA Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera VIII telah dilakukan Audit Mutu Internal terhadap Unit Hidrologi dan Kualitas Air BBWS Sumatera VIII.
Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh staf teknis unit hidrologi dan kualitas air BBWS Sumatera VIII,?PPK Penatagunaan SDA, Tim Auditor Subdit Hidrologi dan Kualitas Air dan Tim Auditor Unit Jaminan Mutu. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka menghadapi Sertifikasi Audit yang direncanakan bulan Agustus Tahun 2014.
Read more

Pompa Sungai Bendung Minimalisir Waktu Genangan Air

Rencana pembangunan rumah pompa dan kolam retensi di Sungai Bendung Sekip Palembang saat ini sudah dimulai. Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Sumatera VIII telah melakukan pemancangan tiang pertama di Jl Ali Gatmir Ilir Timur I Palembang. Tiang pancang pertama ini dibangun tepat di muara kolam retensi yang akan mengalir ke Sungai Musi. Pembangunan rumah pompa dan kolam retensi ini direncanakan selesai di tahun 2018 mendatang dengan dana lebih dari Rp 200 Miliar yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Kepala Bidang Pelaksanaan Jaringan Sumber Air BBWS Sumatera VIII, Adi Rusman menjelaskan, pembangunan rumah pompa dan kolam retensi ini tidak serta merta mengatasi banjir. Hanya saja, dapat memperpendek waktu genangan mengingat selama ini air hujan dan luapan sungai baru dapat kering setelah dua hari.
“Sungai Bendung ini posisinya berada di bawah Sungai Musi, lebih rendah. Sehingga luapan Sungai Musi masuk ke Sungai Bendung dan tidak tertampung, sehingga masuk ke pemukiman warga dan jalan. Fungsi rumah pompa inilah nantinya akan memompa air dan mengumpulkannya ke dalam kolam retensi,” terangnya, Selasa (22/3/2016).
Adi menyebutkan, nantinya akan disiapkan enam buah kombinasi pompa dengan daya hisap 1×6 meter kubik per detik. Dengan daya ini, dipastikan dapat membuat genangan air akan terkumpul di kolam retensi dalam hitungan jam. “Sehingga waktu genangan otomatis berkurang,” tuturnya.